Rencana pemerintah untuk mengajak para Agen Pemegang Merek (APM) untuk memproduksi kendaraan murah, rupanya tidak akan diikuti oleh Mitsubishi. Mitsubishi lebih memilih memproduksi mobil yang ramah lingkungan namun stylish.
"Kami belum bermain di pasar mobil murah. Kita berbicara bagaimana membuat para pengendara akan lebih style di saat berkendara,” ujar Eksekutif Marketing Drector PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor Rizwan Alamsyah, , di sela-sela press conference, Rabu(27/7/2011), di ajang IIMS 2011.
Namun Rizwan pun memastikan bahwa kendaraan yang akan dilahirkan Mitsubishi akan mengarah ke Green car dengan tetap mengutamakan style.
“Akan tetapi yang penting saat ini produk kami semuanya harus green car dan semua produk kami akan mengarah ke sana,” ungkap Rizwan.
Salah satu konsep green car yang dipamerkan Mitsubishi di arena IIMS adalah Global Small Concept. Mitsubishi meyakinkan produk ini akan masuk ke tanah air meskipun belum jelas kapan akan memadati jalanan ibukota.
"Global Small Concept ini sedang dipersiapkan oleh pihak Mitsubishi untuk bisa hadir di sini. Namun kami akan mengemasnya lebih kepada citra dan stylish. Seperti pada desain yang lebih green frendly, dan lebih hemat bahan bakar. Dan kemungkinan mesin dan semuanya sebagai generasi terbaru karena ini memang sudah trennya," ujar Rizwan.
Hal ini pun bisa dikatakan mobil ramah lingkungan ini akan semakin dekat untuk bisa hadir di Indonesia, mengingat bahwa kendaraan ini akan mulai diproduksi di Thailand pada bulan Mart 2012 mendatang.
"Kami membuat mobil ini untuk di dunia, Thailand bulan Maret 2012 sudah mulai diproduksi," katanya.
Namun Rizwan pun belum bisa memastikan berapa harga untuk satu buah kendaraan global dari Mitsubishi ini.
"Pasarnya sudah jelas, kita belum bisa bilang berapa, karena ini masih dalam study," ujarnya.
Showing posts with label Murah. Show all posts
Showing posts with label Murah. Show all posts
Thursday, February 16, 2012
Mobil Murah & Ramah Lingkungan Dapat Insentif Pajak
Program mobil murah dan ramah lingkungan atau low cost and green car akan segera berjalan. Mobil murah dan ramah lingkungan itu bakal mendapat fasilitas insentif pajak. Mobil yang akan dipatok US$ 10.000 atau kurang lebih Rp 85-90 juta ini rencananya akan digarap oleh Daihatsu.
Plt Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan pemerintah sedang menggodok pemberian insentif untuk program mobil ini.
"Pemberian insentif itu sudah masuk ke kajian kita, dan kita pikir nanti menurut kita ada format yang lebih baik gitu ya untuk memberikan insentif kepada mobil murah dan ramah lingkungan," ujarnya ketika ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, kemarin.
Dengan adanya insentif tersebut, Bambang menyatakan harga mobil tersebut akan lebih murah. Memang hal ini akan berdampak banyaknya mobil yang beredar di Indonesia. "Ya biar lebih murah, itu saja intinya," ujarnya.
Hanya saja, Bambang menyatakan mobil murah tersebut harus dijaga agar tetap ramah lingkungan. "Ya tapi kan ada syaratnya, selain murah, ramah lingkungan dan irit. Bensinnya ya nanti pakai yang gas atau pakai yang bensin non subsidi," jelasnya.
Bambang menyatakan aturan mengenai insentif untuk mobil murah ini bisa diselesaikan pada triwulan pertama tahun ini. "Ya pokoknya nanti deh, tunggu hasilnya secepatnya. Kita usahakan pokoknya paling lambat triwulan pertama tahun ini," tandasnya.
Seperti diketahui program mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car) merupakan program kementerian perindustrian. Kabarnya mobil ini akan meluncur tahun depan bekerjasama dengan Daihatsu sebagai prinsipal. Komponen dan desain dari mobil yang kabarnya memiliki kapasitas 1200 cc ini dibuat oleh orang Indonesia.
Kementerian perindustrian juga punya program mobil untuk masyarakat pedesaan yang dibandrol di bawah Rp 50 juta dengan kapasitas 700 cc. Merek mobil GEA besuan PT INKA menjadi penyuplai program mobil ini yang ditargetkan tahun 2014 sudah bisa diproduksi massal.
Pemerintah Sediakan 14% Converter Kit BBG dari Total Kebutuhan
Sementara itu, untuk program konversi mobil dari BBM ke BBG, pemerintah hanya menyediakan converter kit sebanyak 44.000 yang anggarannya dari APBN atau sekitar 14,6% dari kebutuhan awal 300.000 unit. Sementara untuk kelebihannya yaitu sekitar 250.000 converter kit lainnya akan disediakan pihak swasta.
"Converter kit itu Rp 12 juta, ada 300 ribu, tapi itu bukan pemerintah saja, swasta juga, pemerintah hanya menyediakan 44 ribu, swasta beli sendiri," kata Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (17/1/2012).
Widjajono menyatakan converter kit yang dibeli pemerintah tersebut ditujukan untuk angkutan umum, sedangkan yang lainnya untuk kendaraan pribadi. Alat yang disediakan oleh pemerintah akan diberikan secara gratis oleh pemerintah.
"Itu termasuk impor converter kit yang untuk kendaraan umum, kalau kendaraan pribadi masa dibeli pemerintah baru dibeli lagi, 250 ribu itu swasta," jelasnya.
Namun, jika masyarakat merasa keberatan dengan harga converter kit, maka pemerintah tengah menyiapkan rencana untuk keringanan pengadaannya. "Bisa dikasih keringanan, tapi kok kalau beli converter kit protes ya, ya kalau protes pakai Pertamax saja, orang Indonesia banyak yang protes," tegasnya.
Diperkirakan total kebutuhan converter kit program konversi bahan bakar dari BBM ke BBG mencapai 2,5 juta unit. Untuk tahap awal akan disiapkan 300.000 unit converter kit.
Plt Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan pemerintah sedang menggodok pemberian insentif untuk program mobil ini.
"Pemberian insentif itu sudah masuk ke kajian kita, dan kita pikir nanti menurut kita ada format yang lebih baik gitu ya untuk memberikan insentif kepada mobil murah dan ramah lingkungan," ujarnya ketika ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, kemarin.
Dengan adanya insentif tersebut, Bambang menyatakan harga mobil tersebut akan lebih murah. Memang hal ini akan berdampak banyaknya mobil yang beredar di Indonesia. "Ya biar lebih murah, itu saja intinya," ujarnya.
Hanya saja, Bambang menyatakan mobil murah tersebut harus dijaga agar tetap ramah lingkungan. "Ya tapi kan ada syaratnya, selain murah, ramah lingkungan dan irit. Bensinnya ya nanti pakai yang gas atau pakai yang bensin non subsidi," jelasnya.
Bambang menyatakan aturan mengenai insentif untuk mobil murah ini bisa diselesaikan pada triwulan pertama tahun ini. "Ya pokoknya nanti deh, tunggu hasilnya secepatnya. Kita usahakan pokoknya paling lambat triwulan pertama tahun ini," tandasnya.
Seperti diketahui program mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car) merupakan program kementerian perindustrian. Kabarnya mobil ini akan meluncur tahun depan bekerjasama dengan Daihatsu sebagai prinsipal. Komponen dan desain dari mobil yang kabarnya memiliki kapasitas 1200 cc ini dibuat oleh orang Indonesia.
Kementerian perindustrian juga punya program mobil untuk masyarakat pedesaan yang dibandrol di bawah Rp 50 juta dengan kapasitas 700 cc. Merek mobil GEA besuan PT INKA menjadi penyuplai program mobil ini yang ditargetkan tahun 2014 sudah bisa diproduksi massal.
Pemerintah Sediakan 14% Converter Kit BBG dari Total Kebutuhan
Sementara itu, untuk program konversi mobil dari BBM ke BBG, pemerintah hanya menyediakan converter kit sebanyak 44.000 yang anggarannya dari APBN atau sekitar 14,6% dari kebutuhan awal 300.000 unit. Sementara untuk kelebihannya yaitu sekitar 250.000 converter kit lainnya akan disediakan pihak swasta.
"Converter kit itu Rp 12 juta, ada 300 ribu, tapi itu bukan pemerintah saja, swasta juga, pemerintah hanya menyediakan 44 ribu, swasta beli sendiri," kata Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (17/1/2012).
Widjajono menyatakan converter kit yang dibeli pemerintah tersebut ditujukan untuk angkutan umum, sedangkan yang lainnya untuk kendaraan pribadi. Alat yang disediakan oleh pemerintah akan diberikan secara gratis oleh pemerintah.
"Itu termasuk impor converter kit yang untuk kendaraan umum, kalau kendaraan pribadi masa dibeli pemerintah baru dibeli lagi, 250 ribu itu swasta," jelasnya.
Namun, jika masyarakat merasa keberatan dengan harga converter kit, maka pemerintah tengah menyiapkan rencana untuk keringanan pengadaannya. "Bisa dikasih keringanan, tapi kok kalau beli converter kit protes ya, ya kalau protes pakai Pertamax saja, orang Indonesia banyak yang protes," tegasnya.
Diperkirakan total kebutuhan converter kit program konversi bahan bakar dari BBM ke BBG mencapai 2,5 juta unit. Untuk tahap awal akan disiapkan 300.000 unit converter kit.
Mobil Murah Hanya untuk Pabrikan Lokal
Rencana pemerintah untuk memproduksi mobil murah dan ramah lingkungan atau Low Cost and Green Car (LCGC) dalam waktu dekat segera terealisasi. Namun mobil murah ini bisa dipastikan tidak berlaku untuk para Agen Pemegang Merek (APM) asing, akan tetapi lebih diperuntukkan untuk industri lokal.
Seperti yang diungkapkan Direktur Alat Transportasi Darat Supriyanto dalam diskusi di Kantor Kementerian Perindustrian Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/1/2012).
"Terkait dengan mobil LCGC untuk mobil 1.000 cc diharapkan akan mampu berjalan 22 km per 1 liter. Sedangkan untuk 1.200 cc diharapkan bisa mencapai 20 km per 1 liter. Mohon maaf untuk teman-teman prinsipal, (LCGC) ini akan dimanfaatkan oleh teman-teman lokal," ujarnya.
Tiak berhenti sampai disitu Supriyanto pun mengatakan bisa saja kebijakan LCGC akan lahir di kuartal pertama 2012.
"Kalau 1 liter untuk 22 km ini bisa dalam jangka pendek, mudah-mudahan dalam tahun ini. Insya Allah kuartal pertama, memang ada beberapa kebijakan LCGC dan ini akan menjadi kendaraan yang irit bahan bakar," katanya.
Menperin MS Hidayat menuturkan LCGC memang akan ditelurkan di kuartal pertama tahun ini. Perhitungan pajak dan lainnya sedang digarap.
"Memang itu sekarang sudah ada di BKF (Badan Kebijakan Fiskal), saya sudah menunggu berapa bulan, selama 2011 kemarin, separuh 2011, mestinya keluar. Apalagi dipicu oleh Esemka itu memicu lebih cepat momentum kita melahirkan mobil karya anak bangsa," ujarnya.
Seperti yang diungkapkan Direktur Alat Transportasi Darat Supriyanto dalam diskusi di Kantor Kementerian Perindustrian Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (12/1/2012).
"Terkait dengan mobil LCGC untuk mobil 1.000 cc diharapkan akan mampu berjalan 22 km per 1 liter. Sedangkan untuk 1.200 cc diharapkan bisa mencapai 20 km per 1 liter. Mohon maaf untuk teman-teman prinsipal, (LCGC) ini akan dimanfaatkan oleh teman-teman lokal," ujarnya.
Tiak berhenti sampai disitu Supriyanto pun mengatakan bisa saja kebijakan LCGC akan lahir di kuartal pertama 2012.
"Kalau 1 liter untuk 22 km ini bisa dalam jangka pendek, mudah-mudahan dalam tahun ini. Insya Allah kuartal pertama, memang ada beberapa kebijakan LCGC dan ini akan menjadi kendaraan yang irit bahan bakar," katanya.
Menperin MS Hidayat menuturkan LCGC memang akan ditelurkan di kuartal pertama tahun ini. Perhitungan pajak dan lainnya sedang digarap.
"Memang itu sekarang sudah ada di BKF (Badan Kebijakan Fiskal), saya sudah menunggu berapa bulan, selama 2011 kemarin, separuh 2011, mestinya keluar. Apalagi dipicu oleh Esemka itu memicu lebih cepat momentum kita melahirkan mobil karya anak bangsa," ujarnya.
Toyota Bangun Pabrik Mobil Murah di Indonesia
Menjelang kedatangan Presiden Toyota Motor Corp Akio Toyoda ke Indonesia pekan depan, muncul kabar kalau Toyota akan membangun pabrik lagi di Indonesia.
Seperti dimuat Nikkei dan dilansir Reuters, Jumat (9/9/2011), Toyota menghabiskan kocek sebesar US$ 388 juta (sekitar Rp 3,3 triliun) untuk pembangunan pabrik baru. Pabrik itu akan menambah kapasitas produksi Toyota di tanah air menjadi 200.000 unit per tahun.
Pabrik itu diyakini akan mulai beroperasi pada 2013 nanti. Fasilitas baru itu akan dibangun berdekatan dengan pabrik Toyota di Karawang.
Pabrik ini akan membuat 3 mobil subkompak, termasuk sebuah mobil murah yang disiapkan Toyota untuk Indonesia. Mobil murah itu kini masih dalam pengembangan.
Sumber-sumber di Toyota Indonesia ketika dihubungi detikOto masih tidak mau berkomentar mengenai kabar pendirian pabrik baru ini.
"Wah nanti disenggol-senggol," ujar salah satu sumber detikOto sambil berkelakar.
Toyota bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi di Indonesia. Sebelumnya di bulan Mei lalu, Toyota akan menghabiskan 16,5 miliar yen untuk menaikkan produksi di Indonesia menjadi 140.000 unit dari sebelumnya 100.000 unit.
Seperti dimuat Nikkei dan dilansir Reuters, Jumat (9/9/2011), Toyota menghabiskan kocek sebesar US$ 388 juta (sekitar Rp 3,3 triliun) untuk pembangunan pabrik baru. Pabrik itu akan menambah kapasitas produksi Toyota di tanah air menjadi 200.000 unit per tahun.
Pabrik itu diyakini akan mulai beroperasi pada 2013 nanti. Fasilitas baru itu akan dibangun berdekatan dengan pabrik Toyota di Karawang.
Pabrik ini akan membuat 3 mobil subkompak, termasuk sebuah mobil murah yang disiapkan Toyota untuk Indonesia. Mobil murah itu kini masih dalam pengembangan.
Sumber-sumber di Toyota Indonesia ketika dihubungi detikOto masih tidak mau berkomentar mengenai kabar pendirian pabrik baru ini.
"Wah nanti disenggol-senggol," ujar salah satu sumber detikOto sambil berkelakar.
Toyota bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi di Indonesia. Sebelumnya di bulan Mei lalu, Toyota akan menghabiskan 16,5 miliar yen untuk menaikkan produksi di Indonesia menjadi 140.000 unit dari sebelumnya 100.000 unit.
Pemerintah Khawatir Mobil Murah Malaysia dan Thailand Serbu RI
Diam-diam 2 negara di kawasan ASEAN yakni Malaysia dan Thailand sudah memproduksi mobil-mobil kecil dan irit bensin atau Low Cost and Green Car (LCGC). Jika Indonesia tidak segera memproduksi, mobil dari kedua negara tersebut akan menyerbu Indonesia.
"Apabila Indonesia tidak mengembangkan dan memproduksi mobil jenis tersebut dikhawatirkan pasar dalam negeri akan dimasuki oleh produk mobil sejenis dari Malaysia dan Thailand," ujar Menperin MS Hidayat dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Selasa (31/1/2012).
Karena itu lah pemerintah mengebut pengembangan progam mobil murah dan irit bensin ini. Pemerintah optimistis program ini akan mendatangkan investasi baru di tingkat perakitan (assembling).
"Yang sudah berkomitmen untuk investasi antara lain Daihatsu, Suzuki, Toyota, Mitsubishi, Nissan dengan total investasi sebesar US$ 1,8 miliar dan tenaga kerja yang diserap mencapai 15.000 orang. Sedangkan investasi tambahan/ikutan ditingkat industri komponediperkirakan sebesar US$ 1,9 miliar degan tambahan tenaga kerja baru antara 15.000-17.000 orang," ujarnya.
Program pengembangan mobil LCGC ini berlaku untuk semua industri di dalam negeri.
Dengan syarat mobil tersebut memenuhi kriteria yang telah ditetapkan antara lain untuk jenis kendaraan MPV 1.000-1.200 cc dengan konsumsi bahan bakar 20-22 km/liter, komponen lokal diharapkan pada tahun ke-6 sudah mencapai 80 persen termasuk pembuatan power train (engine, transmisi dan axle).
"Program LCGC ini akan memberikan manfaat bagi pengembangan teknologi otomotif di Indonesia, baik dalam pembuatan power train yaitu engine, transmisi dan axle, maupun dalam penyediaan skilled worker yang diharapkan dapat mendukung program-program pengembangan mobil merek nasional," papar Hidayat.
"Apabila Indonesia tidak mengembangkan dan memproduksi mobil jenis tersebut dikhawatirkan pasar dalam negeri akan dimasuki oleh produk mobil sejenis dari Malaysia dan Thailand," ujar Menperin MS Hidayat dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Selasa (31/1/2012).
Karena itu lah pemerintah mengebut pengembangan progam mobil murah dan irit bensin ini. Pemerintah optimistis program ini akan mendatangkan investasi baru di tingkat perakitan (assembling).
"Yang sudah berkomitmen untuk investasi antara lain Daihatsu, Suzuki, Toyota, Mitsubishi, Nissan dengan total investasi sebesar US$ 1,8 miliar dan tenaga kerja yang diserap mencapai 15.000 orang. Sedangkan investasi tambahan/ikutan ditingkat industri komponediperkirakan sebesar US$ 1,9 miliar degan tambahan tenaga kerja baru antara 15.000-17.000 orang," ujarnya.
Program pengembangan mobil LCGC ini berlaku untuk semua industri di dalam negeri.
Dengan syarat mobil tersebut memenuhi kriteria yang telah ditetapkan antara lain untuk jenis kendaraan MPV 1.000-1.200 cc dengan konsumsi bahan bakar 20-22 km/liter, komponen lokal diharapkan pada tahun ke-6 sudah mencapai 80 persen termasuk pembuatan power train (engine, transmisi dan axle).
"Program LCGC ini akan memberikan manfaat bagi pengembangan teknologi otomotif di Indonesia, baik dalam pembuatan power train yaitu engine, transmisi dan axle, maupun dalam penyediaan skilled worker yang diharapkan dapat mendukung program-program pengembangan mobil merek nasional," papar Hidayat.
Subscribe to:
Posts (Atom)